Penurunan permukaan tanah
Penurunan permukaan tanah di Jakarta dikatakan disebabkan oleh “pemompaan air tanah.”
Jika dilihat dari topografi sekitar Jakarta, tidak ada sungai besar dan panjang seperti yang terdapat di Jepang. Gunung Pangrango (3019m) terletak di tenggara, tetapi tidak ada sungai besar yang mengalir dari kaki gunung tersebut.
Dengan kata lain, sebagian besar hujan yang turun selama Musim Hujan 1meresap ke dalam tanah, dengan hanya sebagian kecil yang mengalir di permukaan.
Air hujan yang meresap ke bawah tanah mengalir di bawah permukaan dan dialirkan ke laut. Dengan kata lain, sebagian besar air hujan kembali ke laut tanpa dimanfaatkan.
Di Jepang, praktik umum yang dilakukan adalah membangun bendungan waduk di hulu sungai-sungai besar dan mengirimkan air yang tersimpan ke fasilitas pengan untuk digunakan dalam pasokan air minum publik. Namun, hal ini tidak mungkin dilakukan di Indonesia.
Jadi, apa solusinya?
- Pemasangan waduk tipe Marugame
- Pembangunan bendungan bawah tanah Tipe Pulau Miyako2
- Desalinasi air laut
Pemurnian air laut merupakan pilihan terakhir karena biaya listriknya yang tinggi, tetapi waduk dan bendungan bawah tanah menawarkan tingkat kepastian yang lebih baik.
Dari perspektif efisiensi penyimpanan air, membangun bendungan bawah tanah akan menjadi pilihan terbaik. Namun, jika kita membangunnya, kita mungkin harus bergantung pada teknologi kontraktor umum Jepang…
- Monsun di Indonesia tidak berasal dari Himalaya seperti di Myanmar, Thailand, dan Kamboja. Monsun di Indonesia dipengaruhi oleh Samudra Hindia dan Laut Timor. (Waktu musim hujan dan musim kemarau juga berbeda dengan Myanmar dan Thailand. ↩︎
- akan dilakukan oleh usaha patungan yang meliputi Kajima, Hazama, dan Obayashi Corporation. https://www.city.miyakojima.lg.jp/gyosei/ecoisland/files/190423ecoisland_shisatsu.pdf ↩︎



